Senin, 17 November 2008

Pengemis Pengemis Berdasi

senin tanggal 10 nov 2008 di tayangan di televisi swasta . Jam 8 malam yang topiknya tentang penyuapan atau bagi bagi duit di komisi IX DPR tentang kasus dana BI yang katanya kasus tentang pencalonan orqang no 2 yang terpilih waktu itu adalah Miranda gultom, dana tersebut di ungkap oleh salah satu penerima dana pensuksesan Miranda menjadi deputi bi yang terdiri dari cek yang per orang mendapat 10 cek dan besarannya 1 cek adalah 50 juta jadi jika 10 cek berarti per anggota dpr menerima 500 jt. Sungguh angka yasng sangat fantastis angka yang tak terbayang oleh orang kecil, yamng hanya menjadi rakyat jelata. Yang memilih mereka yang mengangkat mereka.
Aku terpana mendengar angka angka yang diterima atau yang tersebar di DPR. Sangat sulit untuk membayangkan uang segitu banyak. Berjuta berpulih beratus bermiliar triliun, dan mungkin lebih banyak lagi aku tak tau hitungannya. Begitu mudahnya para anggota dewan mendapat semua itu, mungkin hal tersenbut untuk mengembalikan modal awal mereka sewaktu mencalonkan jadi anggota DPR mungkin atau malah benar seperti itu.begitu banyak orang menginginkan kursi di DPR, ada berbagai macam alasan yang terjadi. Tugas muia lah, berbakti pada nusa dan bangsa, berjuang demi daerahnya dan mengabdi pada rakyat. Itulah awalnya mungkin. Tapi ternyata setelah menjadi anggota dan duduk nyaman sejenak. Ternyata mungkin yang terjadi adalah begitu banyaknya peluang bisnis dalam DPR. Banyaknya uang yang bertebaran di DPR. Dan begitu banyak kesempatan begitu banyaknya kerjasama. Sehingga cita cita mulia itu mulai luntur berganti denan pengabdian terhadap rekening tabungan dan duniawai. Rakyat yang memilih itu bisa diatur belakangan . Bayangkan saja anggota DPR dalam satu bulan bias mendapatkan uang yang tidak sedikit bahkan mungkin sangat banyak jika ditangan orang kecil angka 50 juta mungkin gampang lah.
Jadi sebenarnya apa tujuan awalnya menjadi DPR itu. Heran?, padahal jika dipikir sebetulnya jadi anggota DPR itu lebih pusing, harus mengatur bahkan menjadi wakil dari rakyat yang begitu banyak tapi kok banyak yang berebut. Alasanya pengabdian, tapi apakah benar pengabdian , mungkin ada yang tulus mengabdi demi rakkyat tapi mungkin hanya segelintir dan masih bisa dihitung dengan tangan, tidak perlu lah pakai kalkulator.

Mungkin lagunya slank atau gossip jalanan itu benar adanya anggota DPR adalah yang memembuat peraturan undang undang atau UUD (ujung ujungnya duit) atau mencari penghargaan masyarakat, kehormatan masyarakat, dipuja puja bak raja. Katanya mengabdi pada masyarakat dan semua raklyat tapi kok malah pingin di layani. Mungkin DPR itu singkatanya harus diganti misalkan menjadi dewan pemeras rakyat atau dewan penipu rakyat dan atau dewan pencari rebelan. Banyak kenyataan dimasyarakan tentang pembuatan undang undang yang memakan waktu berminggu minggu berbulan bulan bahkan tahunan, padahal yang dibuat hanya 1, 3 atau 4 pasal saja. Enak sekali ya?. Padahal undang undangnya belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Atau itu memang strategi untuk mendapatkan pesangon rapat dewan atau apa mungkin. Tetapi alasa tetap dong undang undang masih diperdebatkan masih di timbang timbang, masih mencari kata kata yang sesuai. Sepertinya susah sekali ya. Tapi undang undangnya jika sudah diresmikan ternyata hanya seperti itu. Yang kadang dilanggar sendiri oleh mereka para angota dewan. Mungkin politik ini harus masuk dalam acara yang kategorinya aneh tapi nyata.
Beberapa bulan lagi Indonesia mengadakan pemilu. Yang memperebutkan kursi DPR. Semua bisa terjadi janji - janji wangi berterbangan bertaburan mulut mulut para calon dewan bak Lumpur lapindo yang tak tertahankan, begitu indah hingga membuat orang berebutan untuk mendapatkannya hingga terjadi tawur, kerusuhan, rebutan jagonya. Begitu mudah masyarakat kita terpengaruh. Mungkin golput dalah pilihan banyak orang ytang mulai bosan dengan politik negri ini. Pesta pemilu adalah pestanya rakyat dan pestanya para dewan, begitu banyak biaya dikeluarkan untuk itu dan apakah itu tidak sia sia. Bnyak jika dana sebesar itu diberikan kepada rakyat berapa banyak warga yang tertolong berapa bvanyak pengangguran yang berkurang.bidsa nggak yah al itu terjadi. DPR adalah politik, DPR mungkin hanyalah suatu profesi atau status pekerjaan saja. Berangkat seperti orang Khalayak saja, jam kerja ya kerja jam pulang ya pulang tanggal muda antri gajian atu tunggu transferan,. Waktu berhitung ya berhitung. Tidur ya tidur namanya DPR juga MANUSIA. Jadi jangan salahkan kalo DPR juga doyan duit. Tak peduli itu uang rakyat tapi yang penting kan nggak terasa uang rakyat. Kan Cuma lembaran . Cuma kertas cek doang. Uang rakyat kan yang didompet, seperti ribuan puluhan dan ratusan ribu. BLT aja buat rebutan. Mungkin anggota dewan itu meliat pembagian uang BLT yang begitu fantastis penuh dengan desak desakan penuh dengan antrian dan isak tangis kegembiraan, mungkin mereka terharu atau malah aneh dan lucu bagaimana tidak uang segitu aja diperebutkan uang segitu aja sampai antri. Bagi anggota dewan uang BLT hanya uang parkir mobil saja. Atau mungkin itu hanya hiburan saja bagi rakyat kecil dan hiburan bagi Negara ini, jadi tontonan berita yang menarik tentang pembagian BLT yang menghebohkan.

Bisa tidak ya Negara ini tidak dipolitisir. Dan biarkan rakyat tenang, bekerja makan. Dari jaman dulu makan tidak pernah tenang. Bisa tidak ya di media tidak lagi ada berita korupsi. Bisa tidak KPK itu tidak digunakan lagi. Mungkin bisa saja kalo semua orang sudah kaya dan tidak lagi ada pengangguran. Mungkin uang bank itu dibagi rata saja pada semua rakyat setidaknya tidak lagi ada orang yang kekurangn. Ahhhhh itu hanya ada didunia dongeng saja….

Akhirnya para pengemis berdasi yang berkuasa, merka dengan mulut manis meminta dipilih dengan janji akan membayar hutan ditambah bunga dan pajaknya, mudah mudahan saja para pegemis berdasi itu menjadi para pengemis bersorban yang rela berbuat untuk para penghuni negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar