Minggu, 01 Februari 2009

Merah Putih atau Putih Saja

MERAH PUTIH ATAU PUTIH SAJA

Demokrasi apakah berarti bebas berpendapat dan bebas berorganisasi, bebas memilih dan lainnya.
Dan ternyata aku malah bingung dengan yang namanya demokrasi itu sendiri. Demokrasi itu untuk siapa dan oleh siapa. Dalam demokrasi katanya ada yang setuju, ada yang tidak setuju, ada berbagai alasan didalamnya, berbagai kepentingan dan mungkin semuanya ada, yang salah satunya adalah GOLPUT dan ternyata saya sadari bahwa dari dulu sampai sekarang ternyata saya adalah penggemar golput itu. Sebenarnya mungkin itu tidak baik tapi itulah pilihan saya, mungkin aku belum mengerti apa pentingnya memilih, atau munkin aku belum mengerti apa itu demokrasi, apa pentingnya tidak golput.

Akhir-akhir ini bertepatan dengan semakin dekatnya pesta para elit politik Indonesia, yang pada bulan april mengadakan yang namanya PEMILU, ternyata yang namanya golput mulai terkenal dan mulai menjadi idola bak artis di masyarakat jelata bahkan elit politik, dan tokoh terkenal yang dengan terang-terangan menyetujui golput.

Wacana golput menjadi perdebatan di kalangan masyarakat dan ternyata hal itu menurut MUI menjadi Haram hukumnya, “ah ada-ada saja pikirku” menurutku yang tak paham dengan semua itu hanya berfikir bahwa golput itu adalah hak,
bahwa golput itu adalah pembrontakan dan ketidak percayaan juga ketakutan.

Fatwa haram itu katanya dimaksudkan untuk membuat sesorang bisa memilih pemimpinya, bisa ikut berdemokrasi,
memilih yang paling benar diantara yang benar,
memilih yang terbaik diantara yang baik
memilih yang baik diantara yang jelek,
paling tidak jika tidak ada yang baik dan yang benar
pilihlah yang jelek diantara yang terjelek.
Menjadi orang yang ikut bertanggung jawab dengan Negara ini,
masih lebih baik Negara ini hancur tapi punya pemimpin
dari pada tidak mempunyai pemimpin.

Ah masa seperti itu? Mungkin benar juga, tapi aku sebagai orang yang bodoh dan yang awam tentang si politik, aku hanya berfikir bahwa memilih pemimpin dan tidak akhirnya sama saja, buktinya dari dulu dan sekarang hasilnya tetap sama hanya maju mundur, naik turun.

Mungkin memang semua orang butuh kiblat, agama saja harus diatur dengan kitab suci dan ada Tuhan, dan itu menggunakan hukum Tuhan. Tapi tetap saja manusia itu susah untuk diatur, menurutku semua itu tergantung orangnya saja yang mengamalkan.

Mungkin sama saja dengan pengaturan Negara ini, mau ikut memilih atau golput, mau ikut mencalonkan jadi pemimpin atau tidak sama saja, tergantung orang itu mau berkarya atau tidak untuk Indonesia ini,

Bolehkah saya golput, berdosakah saya, jika alasan saya menghindari sesuatu yang tidak benar dan penyesalan nantinya, dan juga menghindari permintaan tanggung jawab pemimpin yang saya pilih jika saya memilih?

Bolehkah saya golput jika alasan saya menghindari kerusuhan yang akan timbul karena ketidak puasan terhadap kinerja pemimpin?

Tapi yang saya pikirkan adalah lebih baik tidak punya pemimpin tapi hidup tenang dari pada punya pemimpin tapi diperbudak oleh napsu dan kesemrawutan, tapi beruntungnya aku masih berfikir, bahwa kita sudah punya pemimpin saja masih seperti ini apalagi tidak punya pemimpin ya.. terserah lah.. siapapun itu kalau bias membuat Negara ini lebih baik..

“Enak sekalikan jadi saya, tidak ikut memilih tapi ingin hasil yang terbaik..”

Semoga yang lain tidak seperti saya ya..
pilihlah yang terbaik,
pilihlah pemimpin dengan hati bukan dengan janji.
Lihatlah kemampuan dan bukti karyanya bukan dari janji dan pengakuan keberhasilannya
dan yang lebih penting lagi lihatlah apakah pemimpin itu baik aslinya, atau hanya menjadi orang baik yang musiman.
Dan juga pemimpin yang punya semangat memberi, tapi bukan kolusi lho..

Merah putih atau putih saja…?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar